18 September 2011

The Red Violin

Menurut saya ini film spektakuler yang dengan sangat berani berlompatan melintasi sejarah panjang dalam menggambarkan beberapa perbedaan jaman, tradisi, budaya dan geografis sekaligus. Karena itu film ini melibatkan tidak kurang dari 5 negara diantaranya Italy, Inggris, Canada, Austria dan China.

Menggambarkan sejak setting present-day di Montreal Canada, alur cerita berjalan flashback mengikuti sebuah biola merah yang dikenal dengan "The Red Violin", sebuah masterpiece karya Nicolo Bussotti sang Master pembuat biola yang melegenda di Italy pada abad ke 17, lalu merambah abad ke 18 di Austria, juga Oxford hingga sang biola berada di China pada abad ke 19 pada masa Revolusi Kebudayaan China yang terkenal itu.

Saya benar-benar dibuat kagum bagaimana sutradara Francois Gerard dengan sabar dan brilliant memainkan setting berlompatan yang saya anggap cukup berhasil itu. Sejak ia menggambarkan situasi Itali di tahun 1681 di mana Nocolo Bussotti sedang menantikan kelahiran sang putera, dengan penuh harapan ia membuat biola "Masterpiece" itu yang akan dihadiahkan untuk puteranya setelah kelahiran dari istri tercintanya (Anna) kelak. Tapi takdir berkata lain. Sang istri yang amat dicintainya sepenuh hati itu tewas beserta putra yang telah dinantinya siang-malam dalam kandungan.

Lewat tangan seorang peramal kartu tarot (Cesca) yang meramal Anna pada masa kehamilan, Girard membawa filmnya berlompatan melampaui waktu, budaya dan lokasi berbeda-beda. Meskipun kemudian muncul kritikan anakronisme cukup mengganggu yang mengungkapkan bahwa faktanya, kartu tarot baru digunakan untuk meramal paa akhir abad ke 18. Sebelumnya kartu tarot hanya dipakai untuk bermain. Wallahu a'lam bisshawab… :)

Begitulah, selanjutnya Sang Biola Merah itu berada di tangan seorang anak yatim-piatu berbakat bernama Kaspar Weiss di pusat biara Austria, lalu karena bakat luarbiasanya Kaspar dititipkan untuk dibina oleh Georges Poussin namun lagi-lagi disayangkan, Kaspar yang memiliki penyakit lemah jantung meninggal pada sebuah audisi pemain cilik. Maka Biola itu dikuburlah bersama jasad Kaspar.

Namun kuburan Kaspar ternyata dibongkar, dan biola berpindah ke para kaum gypsi dari tangan satu ke tangan lain hingga sampai ke tangan seorang bangsawan Inggris Frederick Pope. Seperti para pemegang sebelumnya, Ia begitu terobsesi bahkan terhipnotis pada biola tersebut yang menginspirasinya menulis berbagai inspirasi cintanya kepada wanita pujaannya yang kelak wanita itu menembak biola tersebut karena cemburu, hingga Pope tewas karena menembak dirinya sendiri.

Biola Merah itu lalu berpindah ke China lewat tangan pelayan Pope dan dijual ke sebuah toko barang bekas. Singkat cerita, biola itu dimiliki seorang kader partai komunis China pada masa Revolusi Kebudayaan, di mana saat itu budaya Barat dilarang di sana. Lagi, biola itu membawa korban seorang guru musik biola yang melindungi biola tersebut di sebuah loteng rumahnya.

Perjalanan  The Red Violin berakhir di pusat pelelangan Daval, Montreal di mana si ahli biola (Carles Morrits) melakukan berbagai ujicoba lab tentang keaslian biola tersebut. Sebuah pertarungan dengan kepentingan pribadi untuk memiliki biola tersebut untuk diahiahkan kepada buha hatinya sempat seru terjadi pada diri Morrits, namu di beberapa saat sebelum dilelang, ia membatalkan niat itu dan mengganti sendiri biola tiruan dengan yang asli. 

Di sana juga film sempat kembali flashback untuk menceritakan bahwa warna merah pada biola ti adalah hasil pencampuran formula semacam pernis dan darah yang diambil sendiri oleh Bussotti dari urat nadi istri tercintanya Anna, dalam kondisi keputus-asaan yang dalam. Ada kutipan dialog menarik dare Morrits di sana: "What do you do when the thing you most wanted, so perfect, just comes?"

Kereen…! batin saya sambil membaca credit title film berdurasi sekitar 135 menit ini kagum. Pertama di release tahun 1998 di Troronto International Film Festival. Ya, tidak ragu saya sarankan, film yang ditulis oleh Don McKellar & Francois Girard yang konon diperkirakan ber-budget sekitar $10.000.000 ini memang layak anda tonton...!

08 September 2011

Membaca Selimut Debu

Lagi, kali ini saya ingin rekomendasikan anda untuk membaca buku keren ini. Ya, buku setebal 461 halaman ini dalam sekejap menerbangkan imaji saya menelusuri padang rumput luas, pegunungan terjal bersalju dan tentu saja hamparan tanah kering berdebu Afganistan.

Agustinus  Wibowo (AW), sang petualang sekaligus penulis buku ini memiliki gaya bernarasi yang cukup mengikat emosional saya. Tentu saja itu wajar, karena apa yang disampaikannya dalam buku ini adalah berita dari tangan pertama alias dia sendiri yang mengalami petualangan panjang dengan berbagai situasi jatuh-bangun saat terlibat secara langsung.

Mengikuti perjalanan AW saya tiba-tiba menjadi sosok yang introspektif, kadang menjadi pemikir dadakan bahkan seringkali seperti bersemangant menjadi sukarelawan pembela hak-hak asasi manusia. Tentu saja itu semua hanya sebatas dari tempat duduk atau pembaringan di mana saya melahap buku ini.

Dengan refferensi dan nara sumber cukup memadai baik dari sisi historis, geografis maupun antropologis, AW cukup fasih membaca tradisi dan situasi Negara yang terbentuk dari berbagai suku yang berabad-abad dirundung perang ini. 

Bahkan sebagai seorang non-Muslim, AW saya lihat cukup lihai dalam mengkritisi kerancuan antara ajaran agama dan tradisi lokal seperti penggunaan burqa dan perlakuan negatif terhadap wanita atau pemujaan Ali bin Abi Thalib yang berlebihan, bahkan perseteruan tak berujung antara dua madzhab besar yakni Sunni dan Syi'ah. Meski tentu saja msih terasa kehati-hatian yang saya anggap sangat wajar untuk masalah sensitif yang tidak hanya melibatkan Afganistan sebagai main-target penulisannya, namun itu adalah masalah Islam secara global di berbagai negara termasuk Indonesia.

Sebagai seorang Muslim, saya justru merasa harus berterimakasih kepada AW dengan berbagai penelusurannya itu. Mengingat, kebetulan hal-hal itu juga seringkali menjadi ketertarikan saya untuk mencermati, yaitu tentang kemurnian ajaran Islam yang saya rasa terlalu banyak di-"belak-belokkan" atas nama berbagai kepentingan bahkan "kebodohan" dari zaman ke zaman.

Well, lepas dari itu semua, saya juga banyak belajar dari Selimut Debu ini dari berbagai quote yang dihadirkan AW baik yang berasal dari domestic suku-suku Afganistan, apalagi beberapa tokoh idola saya seperti Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal dan lainnya juga dikutip dengan pas secara content oleh AW.

Sekali lagi. Anda tidak rugi menyempatkan waktu membaca buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini. Tak banyak waktu yang anda sisihkan dibanding cakrawala pemikiran yang terbuka luas setelah itu.

Semoga…. :)

04 September 2011

Persepolis


Inilah salah satu film animasi dua dimensi yang luarbiasa, menurut saya. Saya sangat rekomendasikan anda menontonnya, meski anda tetap harus smart dan bijak dalam memahami apa yang disampaikan film ini, sebelum anda menilai dengan fair.

Sarat kritikan menohok, film ini sebenarnya diadaptasi dari komik otobiografi karya seorang wanita Iran, Marjane Satrapi yang menggambarkan kisah nyata masa kecilnya hingga beranjak dewasa di Iran pasca Revolusi Islam.

Sungguh terasa bagaimana ia dengan sangat menggebu menggoreskan sketsa apik tentang suasana batinnya yang mewakili keterpurukan perempuan Iran saat itu di tengah keluarga kecilnya yang berpikiran moderat, namun tak mampu berbuat banyak terjepit diantara situasi politik, tradisi dan spiritualitas yang dipaksakan.

Meski pergolakan ego remajanya di Eropa sempat membuatnya terpuruk oleh libido, tuduhan dan pengkhianatan hingga mengantarnya kembali ke Iran, namun ia tidak bisa membohongi dirinya untuk tidak memberontak terhadap paksaan spiritualitas yang baginya tidak fair bagi kaumnya.

Film berbahasa Perancis yang disutradarai oleh Vincent Paronnaud dan Marjane Strapi sendiri sebagai Co-Director, divisualkan dengan tone Black & White seperti komik aslinya, meskipun ada sedikit present-scene yang dibuat colorful.  Dituangkan dengan sederhana namun sangat memukau. Sesekali saya merasa dibawa ke dunia surrealis di bawah bayang-bayang voice-over Marjane yang bernarasi cukup menohok dalam menuturkan kisahnya kata per kata.

Komiknya sendiri memang cukup mendapat sambutan hangat sejak peluncurannya dalam bahasa Perancis dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dengan sambutan tak kalah populer.

Judul "Persepolis" sendiri konon berarti sebuah kota kuno dari Kekaisaran Persia bernama Parsa yang terletak 70 Km Timur laut Shiraz, Iran. "Persepolis" sendiri berasal dari terjemahan bahasa Yunani dari nama kota ini: Persēs polis: "Kota Persia". Dalam bahasa Persia, tempat ini dikenal sebagai Takht-e Jamshid (Tahta Jamshid) dan Parseh. Sisa terawal Persepolis berasal sekitar tahun 515 SM.

Begitulah, dalam otobiografi pergolakan wanita Iran ini, batin saya diaduk-aduk antara "iya" dan "tidak". Maksudnya, dalam visi pendek, saya banyak meng-iya-kan dan bersimpati terhadap apa yang dialami dan dirasakan Satrapi. Namun kadang saya juga sering terganjal jika melihat akibat yang juga digambarkan sendiri olehnya dalam keterpurukannya di dunia "bebas" Eropa impian Satrapi sendiri, yang terbukti tidak terlalu ramah untuk "kemanusiaan"-nya. Akhirnya tanpa terasa saya seperti tiba-tiba  dilibatkan dalam kegamangan antara dua tukub yang berbeda.

Bagaimanapun, ini salah satu karya yang saya acungi jempol tanpa ragu. Betapapun anda tidak suka komik atau film kartun, saya yakin anda akan tertarik dengan content menggelitik yang diusung film ini. Kecuali anda tipe yang sama sekali tidak suka membaca atau tidak peduli apa-apa. 

Semoga bermanfaat... :)

01 September 2011

Dari Hilal Sampai Toleransi



"Jujur, lama-lama agak jengah juga dengan perbedaan penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawwal ini," seorang teman berkomentar berapi-api. "Sudah bertahun-tahun kok masih saja gagal menyamakan persepsi," lanjutnya kali ini ada ekspresi  sinis sekaligus pasrah. 

Begitulah 1 Syawal tahun ini, 1432 Hijriyah bertepatan dengan 2011 Masehi masih juga tumpang-tindih alias nggak seragam. Saya memaklumi begitu hebohnya itu karena menyangkut lebaran setelah 1 bulan penuh berpuasa. Alasan lebih serius lagi karena 1 Syawal adalah hari di mana puasa diharamkan.

Biang keroknya adalah metode? Ya, memang ada yang menggunakan Ru'yatul hilal, ada yang lebih suka dengan metode Hisab bahkan ada yang sekedar mengamati grafitasi bulan yang terlihat dari pasangnya air laut.

Definisi "Hilal" dalam ilmu falak merupakan pemunculan bulan paling awal (berbentuk sabit) di ufuk barat yang tampak menghadap bumi setelah mengalami konjungsi atau ijtimak. Konjungsi adalah peristiwa di mana matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. 

Nah, singkatnya, Penampakan "hilal" itulah yang menandai pergantian bulan yang berarti masuknya awal bulan baru dalam system kalender qamariyah.

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [Al Baqoroh(2):189]

Sedangkan "hisab" secara harfiyah berarti 'perhitungan', adalah metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi penentuan matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu shalat.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus(10):5]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [ArRahmaan(55):5]

So, metode mana yang paling benar? 

Ya jalas, menurut saya semuanya benar dong..! Islam adalah agama yang sangat mengakomodir proses ilmiah dan alamiah dalam berbagai hal. Penentuan bulan hanyalah salah satu contoh kasus saja,

Kalo gitu kenapa berbeda? Bukankah setiap proses dalam metodologi ilmiah yang detil dan rumit  akan selalu menyisakan perbedaan-perbedaan kecil? Nahh.. menurut saya, untuk itulah Islam masih menyediakan "post" setelahnya yaitu apa yang dikenal dengan "Ijma'" atau kesepakatan ulama dan "Ulil Amri" atau pemerintah. Dua-duanya bersifat domestic untuk masing-masing wilayah. Dan jelas Islam juga mewajibkan kita mematuhi pemerintah (Wa athii'uu Ulil Amri minkum……).
Untuk penentuan akhir setelah kedua "post" di atas, Islam masih menyediakan satu lagi "final post" yaitu "keyakinan". Ya, beragama adalah soal keyakinan, soal iman.
Nahh… Masalahnya di Indonesia ini antara pemerintah dan ulama' yang jumlahnya buaanyak itu nggak akur juga. Tambah runyam  lagi, masing-masing ormas punya ulama'nya sendiri-sendiri yang memang cukup kokoh.

Jadilah lagu lama yang meski sudah kusut diputar lagi setiap tahun. Situasi yang sangat tidak sedap dirasakan. Mereka yang seharusnya berbeda secara ilmiah menjadi seperti adu legitimasi di mata ummat masing-masing. Dari persoalan ilmiah menjadi masalah kredibilitas, wibawa, image dan sejenisnya. Sungguh, sama sekali tidak dewasa dan ini serius.

Yang lebih lucu lagi, 1 Syawalnya ribut-ribut berbeda, eee.. tau-tau kelak tanggal 17 atau 20 Syawalnya sama. Bisa juga 10 Dzulhijjah (Idul Adha) dan 9 Dzulhijjah (Wukuf Haji di Arafah) sama semua, ga ada yang ribut..??!

"Perbedaan adalah Rahmat". Yes absolutely! Tapi mari mencoba berbeda dengan elegan.dan cerdas. Bertoleransi dengan menghormati yang tak sependapat dengan kita, itu harus. Belajarlah untuk tidak menggerutu sinis terhadap kelompok lain yang berbeda, tapi di saat yang sama mulut Anda dengan manis bicara toleransi dan saling menghormati…???

Akhirnya, perbedaan itu memang akan selalu ada. Tapi saya (pribadi) masih berpendapat bahwa tidak mustahil perbedaan itu kita satukan untuk menghasilkan kesepakatan dengan syarat; Ulama' dan Umara' (pemerintah) yang bersih, yang BISA DIPERCAYA..! (Bold-italic-underlined).

14 May 2011

Eat Pray Love

Review ini sebenarnya sudah lama saya post secara parsial di twitter, tepatnya sehari setelah saya nonton film ini di bioskop. Cuma sekarang baru sempat meng-compile kembali di blog ini. Maklum, sibuk. (Baiklah.. itu versi lain dari maless.. :D)

Kegetolan saya nonton film ini memang tidak lepas dari hebohnya Indonesia membicarakan film yang dibintangi Julia Robert ini karena lokasi shootingnya yang melibatkan Bali. Ya, memang Indonesia begitu heboh. Tak kurang dari Menteri Budpar, jauh hari tak henti-hentinya mengkampanyekan film ini di berbagai stasiun TV. Sebuah perlakuan yang sangat istimewa, sampai-sampai saya sempet ngiri, andai pemerintah memperlakukan film Indonesia seperti ini…

Baiklah… Secara konsep, saya berpendapat, ini film bagus dengan materi bahasan yang mendalam dengan tiga set lokasi berbeda; Italy yang merepresentasikan makanan, India dengan spiritualitasnya dan Bali yang digambarkan sebagai muara tempat berlabuhnya jawaban atas perjalanan cinta maupun spiritualitas itu.

Ya, Eat Pray Love memang bukan cerita baru bagi tradisi film-film Amerika. ia hanyalah pencarian solusi yg amburadul bagi personal problem tipisnya spiritualitas khas org Amrik. Nah, atas problematika tersebut, saya merasa film ini kurang tegas dalam memposisikan masing-masing karakternya. Di mana-mana saya menemukan kegamangan jawaban-jawaban spiritual yg sejujurnya menurut saya kurang sepenuhnya menjawab.

Karakter Ketut sebagai tokoh spiritual yang bijak di Bali sebenarnya cukup kuat. Dialah muara jawaban dari seluruh perjalanan problem spiritual JR menemukan titik terangnya. Namun itu sedikit terkikis justru menjadi anti klimaks dengan hadirnya karakter pacar JR asal Brazil yang sudah lama tinggal di Bali.

Pacar Brazil di Bali..! Hmmm… dari gatel, kini bokong saya mulai memanas di sini. Kenapa? Pertama, hanya gara-gara orang Brazil di Bali, frame yang berisi landscape sawah dan penduduk asli Bali, eee.. backsoundnya kok dikasih musik latino. Plis deh dong…! Yang kedua, apa nggak lebih oke jika Julia Robert jatuh cinta sama orang lokal Bali aja biar set cerita di Bali ini gak kerasa terlalu maksa. Jauh-jauh dari Amrik ke Bali, ketemunya orang Brazil which is Amrik juga. hadeeh…

Yang juga saya sayangkan, Director sepertinya kekurangan energy untuk mengeksplore segitu banyaknya landmark Bali yang cukup iconic di mata dunia. Yang ada justru beberapa sudut kecil yang ambigu, seperti pasar buah tradisional yang sebenarnya ada di seluruh Indonesia.

Sialnya, itu semua diperburuk dengan hadirnya tokoh yang diperankan Christine Hakim sebagai seorang single parent yang jago dalam hal pengobatan tradisional. Meski acting mbak Christine cukup bagus, tapi di sini Bali jadi semakin absurd, Bali kok justru lebih mirip atmosfir Tiongkok tradisional. Sialnya lagi, (kok kebanyakan sial ya??… bodo ah..) Christine Hakim punya anak cewe cantik dan lucu, yang bahasa inggrisnya itu loh.. jago buanget untuk ukuran anak Bali seusia itu. Automatically langsung mengingatkan saya pada anak-anak International School di Jakarta.

Kecuali catatan diatas, untuk eksplorasi antropologis sisanya di masing-masing set (Italy, India, Bali) saya anggap cukuplah. Nah, truss yang ini gak kaget. Ini sangat typical Hollywood, yup! seperti biasa, 'Kissing before Ending…!'  "Hmmm… but can you guys, find another way pliiiiiis….?"

Biasanya, saya termasuk yang bisa menikmati flow lambat dari sebuah film. Tapi dengan berat hati saya harus jujur, bahwa di film ini bokong saya sudah gatel sejak seperempat jam awal. Gimana nggak, director mengeksplore tiap-tiap set maupun adegan secara berulang-ulang untuk sebuah ungkapan dengan tujuan yang sama dan itupun begitu monoton. Gampangnya, andai saya boleh ngomong saat itu, saya akan teriak  "iya..iya.. ane udah paham kalee…"

Kesimpulannya, untuk nonton Eat, Pray, Love ini saya sarankan, you better Eat before watching, Pray to be ended soon, then you can go home to make Love…. hehe.. piss....

20 March 2011

Membaca Sabda Palon


Membaca Sabda Palon, saya cukup terbawa suasana masa lalu tanah moyang kita yang konon memang  terkenal penuh dengan gegap-gempita ambisi, persaingan dan intrik. Kata ‘terbawa’ saya gunakan untuk merepesentasikan emosi selama membaca. Ada ketertarikan, juga bangga, kadang miris, terharu dan seringkali penasaran, tidak percaya.

Sebagai manusia yang lahir di sekitar Trowulan, saya jadi sering berharap siapa tahu moyang saya adalah salah satu ksatria gagah perkasa itu, syukur-syukur sang Raja atau Rani, kalaupun tidak yaah keturunan Jaka Tarub dan Nawangwulan boleh lah.. (silahkan menghina saya sambil ketawa guling-guling…).

Sejarah memang sudah mencatat, Nusantara di sekitar abad ke-14 adalah masa transformasi yang begitu heboh. Tidak hanya transformasi kekuasaan dan politik (geografis), tapi juga menyangkut transformasi spiritual dan ideologi. Bahkan Thailand sudah lebih dulu membuat film kolosalnya yang melibatkan kata ‘Jawa’, salah satunya Queen Of Langkasukha (Ini juga bisa jadi bahasa lain bahwa saya selalu pengen memfilmkan Majapahit dengan sebenarnya dan belum kunjung berhasil…). 

Novel Sabda Palon ini tampaknya bertumpu di sekitar itu, bermedium penyebaran awal agama Islam serta kedatangan para saudagar dan ksatria China untuk lebih leluasa mengatakan betapa Nusantara ini terbangun dari heterogenitas atau multi-culture. Lalu hadirnya tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong  dengan agama Budi-nya menjadi begitu pas seperti yang diinginkan penulis untuk mengkritisi fanatisme ideologi yang menggerogoti bangsa ini sejak kejatuhan Majapahit hingga saat ini. 

Siapapun Damar Shasanka, dia story-teller yang cukup berbakat. Cerita panjang dengan plot yang sangat random bahkan seperti hampir tidak ada main-plot  yang menjembatani keseluruhan cerita kecuali satu benang merah; Majapahit,  dia berhasil menahan saya untuk tidak buru-buru mengalihkan perhatian saya ke Manohara dengan Sinetron Supergirl-nya itu atau Sinetron lucu lain bertitel Anak Yang Tertukar atau apalah... Damar Shasanka juga berhasil menyamarkan antara catatan sejarah, imajinasi dan mungkin hasil olah batin penelusurannya dengan narasi-narasi licin yang cukup cerdas.

Akhirnya saya menamatkan buku luar biasa ini dengan beragam kecamuk di kepala ini. Selain belum dapat kepastian siapa moyang saya, saya juga masih bodoh dengan hal-hal di luar catatan sejarah dan imajinasi. Saya termasuk yang anti fanatisme berlebih apalagi sampai membunuh ideologi lain yang berseberangan dengan saya. Tapi saya juga belum berani menyimpulkan bahwa kejatuhan Majapahit dan keterpurukan bangsa ini hingga sekarang adalah karena ideologi tertentu. Sebab jika terpuruk itu maksudnya setelah dibandingkan dengan Amerika atau Jepang, saya punya ukuran sendiri. Satu hal, saya selalu bangga dengan manusia yang bangga dengan tanah dan moyangnya sendiri  dengan karya seperti ini. Semoga karya-karya seperti ini terus berlanjut…

Lohh..! jadi moyang saya itu siapa ya…???

30 December 2010

Garuda Tetap di Dada

Lawan mana yang tak gentar dengan gegap gempita supporter indonesia hari ini, 29 Desember 2010 di final leg-2 piala AFF. Namun mereka terlihat anggun, sportif dan tetap loyal, meski mereka harus kecewa ketika ternyata Timnas kesayangan kurang beruntung merebut piala AFF. Satu hal, mereka paham betul para pemain telah berjuang dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Karena itulah loyalitas mereka tak bergeming, tanpa pamrih.

Nggak banyak tentang nasionalisme yang bisa membuat saya merinding setelah semangat bambu runcing nenek moyang kita dahulu. Tapi yang ini saya akui, saya terharu dan bangga dan merinding dan.. dan.. dan…!

Itu lebih dari cukup membuat saya melupakan kekalahan yang faktanya hanyalah bersifat angka-angka score. Bagi saya dan mungkin bagi bangsa ini, secara moral kitalah pemenangnya dengan cukup fair dan jantan tanpa harus menggangu pemain lawan dengan tindakan-tindakan licik (untuk tidak menyebut pengecut) seperti yang diterima pemain kita saat bermain tandang.

Supporter Indonesia tetap menyambut tim kesayangan sejak latihan di lapangan, di hotel dan di bandara, bahkan dukungan itu nggak juga padam meskipun timnas akhirnya kalah. Di sini saya menangkap, betapa loyalitas mereka benar-benar didedikasikan bagi sebuah perjuangan, untuk 'the real hero' mereka. Bukan dukungan untuk sekedar sekeping piala, tropi atau medali semata. Hari gini, di republik ini, nggak banyak yang bisa menerima loyalitas sebesar ini dari masyarakat.

Saya berani jamin, andai bus rombongan timnas beserta pengawal dan vorijder mereka membelah kemacetan di Jakarta, maka tak ada satu pun yang protes atau keberatan. Justru mereka akan dielu-elukan. Tapi coba presiden, apalagi menteri yang mendahului dengan pengawalan khusus saat kita lagi macet. Rasanya pasti dongkol dan arrghhhhh..!!!!

Kenapa begitu?

Simple saja, rakyat tahu betul siapa pahlawan mereka yang sesungguhnya dan siapa yang memaksakan diri agar dianggap 'pahlawan'. Padahal pahlawan yang sebenarnya, seringkali tidak peduli apakah dia pahlawan atau bukan.

Percayalah "Garuda di dadaku" tak akan pernah berhenti bergaung dalam hati rakyat..!

17 November 2010

UNFOLLOW AJJAHH...

Setelah menahan-nahan beberapa lama, akhirnya saya gak kuat juga untuk nggak nulis uneg-uneg ini.
Jadi masalahnya begini (halah). Twiiiiteeerlaaaand..... 

Ya, untuk sekian kalinya, semalam saya membaca ocehan 140 karakter yang kurang/lebihnya berbunyi begini: "Kalo gak suka pendapat saya, silahkan unfollow saja..!"

Sekilas ga ada masalah dengan tweet-tweet begitu. Tapi lama-lama saya kok ngerasa kurang sreg juga dengan lagak seperti itu. Kesannya, dia mau seenak-enaknya ngomongin public-contents sementara publik nggak boleh protes. Dan lagi, kesan saya orang seperti itu terjebak sedang menilai dirinya sendiri terlalu tinggi. Kasian. 

Biasanya, bencana dimulai saat si pemilik akun tersebut berteori atau sekedar mengkritisi sesuatu hal yang terjadi, tentu saja dalam 140 karakter. Setelah beberapa kali posting, tiba-tiba ada yang protes atau tidak sependapat dengan tweet dia. Nah, dengan nada sedikit nyolot, muncullah tweet sinis untuk mempersilahkan unfollow itu.

Memang orang-orang yang suka berbu-tweet seperti itu rata-rata memiliki follower bejibun. Baiklah, itu keren. Tapi itu belum membuat dia huebat kan? dan bukan itu masalahnya. Saya paham kalau hampir semua berdiplomasi bahwa twiter adalah ruang atau rumah pribadi. Jadi semua orang bebas berbicara apapun di rumah sendiri, lalu dia berhak marah saat ada orang asing datang mengacak-acak privasinya.

Hoho..hmmm... Maaf geli sejenak. Mmm.. gimana ya..? Sebab analogi itu tidak sepenuhnya pas. Memang itu mulut anda, jari anda, diatas keyboard computer anda pribadi, apalagi di akun pribadi anda pula. Tapi anda lupa bahwa konten pembicaraan anda adalah milik publik. Apalagi anda sedang mengkritisi misalnya, acara TV, kebijakan pemerintah, apalagi agama. Ya siap-siap aja ada yang gak setuju, dan itu harus anda pertanggung jawabkan dengan diskusi yang asyik, bukannya marah-marah terus nyuruh unfollow.

Baiklah, analogi bodohnya begini. Anda punya kebebasan penuh untuk berteriak-teriak tentang apapun di teras rumah anda sendiri. Saya definitely setuju tanpa ragu. Tapi gimana jika isi teriakan anda itu adalah mencaci-maki bahwa orang-orang kampung sekitar anda semuanya busuk, misalnya. Maka menurut saya, sebaiknya anda bersiap babak-belur exactly di properti pribadi anda sendiri. Betuull?

Eits... jangan salah.. Saya juga termasuk orang yang memuja kebebasan berpendapat. Tapi saya juga sedikit/banyak paham ada sebuah dalil Ushulul-Fiqh yang berbunyi; --Kebebasan Kita Akan Selalu Berbenturan dengan Kebebasan Orang Lain-- Artinya, mulut kita bebas berteriak sekencang atau sejorok apapun yang kita mau. Tapi jangan lupa, telinga tetangga kita juga memiliki kebebasannya untuk mendengar sesuatu yang nyaman dan baik. Betuull?

Yang lebih menggelikan lagi, ada juga kasus, sebut saja si-E yang ngetweet mengkritisi acara TV, yang menurut dia norak dan kampungan. Ketika ada yang protes dan gak sependapat, dia langsung posting tweet balasan begini: "Orang bodoh adalah yang nggak tau di mana letak tombol Unfollow..!

Wuihh kerenn...! Nahh..?! bukankah dalam kasus acara TV norak itu, seharusnya dia juga bisa dengan mudah untuk bertindak PINTAR dengan segera pindah Channel saja?

Kesimpulannya, selama kita ada di ruang web, meski itu akun pribadi, tulisan kita akan terbaca oleh orang lain. Walaupun orang itu tidak memfollow kita (Twiter), toh tweet kita akan muncul juga di Google Search, misalnya. Apalagi jika tweet itu menyangkut urusan publik.

Sudahlah... piss Maan....! Semoga bermanfaat dan bisa jadi pelajaran terutama buat saya pribadi. Tidak ada sedikitpun kebencian saya dalam menulis ini, hanya sebel aja liat orang angkuh dan gak bertanggung jawab (Halahh podo wae... hehe...). Nggak lah... yang jelas, silahkan bebas bicara apa saja, tapi bersiaplah untuk bertanggung jawab dengan bijak jika ada yang gak sependapat.

Itu saja.... :)

28 October 2009

Cool & Sexy


Sekali-kali duduklah di pinggir jalan, sendiri, jangan ber-sms atau melakukan apapun selain mengamati satu demi satu makhluk, bisa manusia atau apapun yang lewat di depan anda. Jika anda beruntung, akan ada banyak pelajaran diri yang didapat. Seperti yang baru saja saya alami, hehehh..

Dari kejauhan, seorang pemuda berkacamata hitam dengan pundak tinggi sebelah sedang berjalan 'cool' ke arah saya. Setiap kali berpapasan dengan orang lain ia selalu meraih bagian atas hidungnya untuk sedikit menaikkan posisi kacamata hitamnya. Berulang kali, ya, setiap kali berpapasan. Sementara ia memilih memasukkan satu tangan lainnya ke dalam saku celana depan. Hmm..

Nah..! Kali ini dari arah berlawanan, saya menangkap seorang cewek dengan dandanan cukup seksi, juga dengan kacamata yang lebih tepat disebut kacamuka, karena hampir menenggelamkan sebagian wajahnya. Agak lebih dekat.. Ups..! Ternyata ia cukup berumur, seorang ibu-ibu rupanyanya. Cukup trendi dengan sepatu hak tinggi, hingga mampu memantul-mantulkan bokongnya dan menggoyang-goyangkan dadanya saat berjalan. Huff...

Saya pun mulai megukur dan mengatur focal-length lensa mata saya. Satu hal yang saya pikikirkan, apa yang terjadi saat dua orang yang saya amati ini bertemu? Hmm.. tau nggak? Sekitar satu setengah atau dua meter sebelum berpapasan, dua-duanya jelas langsung beda cara berjalannya, gesture-nya. Ekspresinya pun jadi lebih beragam. Senyum si wanita lebih mengembang dengan lipstik merahnya, mulut si cowok kini monyong bersiul. Pada jarak yang dianggap cukup dekat, tanpa ragu-ragu si cowok mengarahkan pandangan ke arah si wanita tanpa basa-basi, cukup frontal hingga sudah lewat pun kepalanya ikut menengok ke belakang. Sementara si wanita tampak hanya matanya yang melirik dari balik kacamukanya yang memang tidak terlalu gelap. Seperti cuek, tidak peduli, tapi saya bisa menangkap intensitas pantulan dalam caranya berjalan kini bertambah cukup drastis.

Emangnya kenapa? Ada yang salah dengan mereka?

Oww.. tidak.. itu wajar dan manusiawi. Bahkan saya maupun anda barangkali sering melakukannya. Ngaku aja! Bahkan sedikit-banyak kita pun bisa menerjemahkan apa yang ada di dalam hati mereka saat seperti itu, dari pengalaman-pengalaman kita juga.

Mungkin saja, si cowok berpikir "I'm Cool man.. Soo cool..." seperti kita juga pernah merasa begitu saat mengenakan kacamata hitam dan puluhan kali melirik spion kendaraan kita sepanjang perjalanan. Begitu juga bagi si wanita. Saya kok yakin, dia berpikir "Wuihh.. Take a look at me guys.. I'm soo sexy for your eyes..."

Sudahlah... semua manusia hidup pernah alami itu, bahkan mungkin memang butuh itu. Memaksimalkan diri menjadi sebuah object.

Object?!

Ya! Object untuk dilihat, didengar, dipuji, dimiliki dan seterusnya. Tapi masalahnya, saat ini saya sedang mengajak anda menjadi 'subject' yang mengamati object-object di trotoar jalan itu saat saya dan anda tidak sedang menjadi object.

Masalahnya lagi, apa iya, si cowok itu benar-benar 'cool' seperti yang ia pikirkan as an object? Kalau anda memaksa saya untuk jujur as a subject, sejujurnya saya lihat cowok itu nggak begitu cool, malah terkesan lucu meski itu wajar.

Dan si wanita? Jujur??!

Hmm... Gimana ya.. Sebagai subject, sayangnya saya ini laki-laki normal. Pertama-tama, secara otomatis mata saya tersedot dengan sendirinya dan susah untuk merubah angle, terus caranya berdandan dan berjalan itu lho.. membuat kepala ini membayangkan yang 'iya-iya' sambil mencoba menebak-nebak posisi dan tata letak beberapa perangkat lunak yang sebenarnya itu cukup memalukan untuk diceritakan. Parahnya lagi, semua itu saya alami bersamaan dengan perasaan berdosa yang tidak henti-hentinya menonjok-nonjok ulu hati saya.

Astaghfirullah...

Begitu sadar, walah.. si wanita itu juga jadinya lucu. Ngapain dia berpakaian dan berjalan kayak gitu ya? Kalaupun itu merupakan bentuk usaha agar ia merasa seksi setelah pinggul dan dadanya terguncang-guncang, lama-lama apa nggak masuk angin trus kecapekan?

Hmm... ya sudah.. Ada yang protes? Itu semua memang subyektif, karena memang hadir dari subyektifitas saya yang saat ini sedang menjadi Subject. Yang jelas Dalam hati saya bersyukur, dilahirkan dari seorang ibu yang berpakaian sangat tertutup dan berjalan biasa-biasa saja dan tidak lucu. Nah, sekarang tinggal berdo'a semoga saya tidak terlalu sering merasa sok 'Cool" dan berjalan agak mendongak di bumi Tuhan ini. Amin...

Hanya itu? Bagaimana dengan makhluk lain?

Yaa, biasa lah.. ada beberapa ekor kucing yang sangat berisik dan bernafsu berebut sisa makanan di tong sampah dekat saya, selain beberapa Cherokee, Hammer, Mercedez, BMW seri terakhir yang mondar-mandir bikin ngilu sekaligus ngiler
hati ini..

Hehehh...

01 June 2009

Perfect

di dunia ini...

jika tak seorang pun
terbebas dari penyakit,
kenapa kita begitu panik
saat menemukan hanya satu
atau dua rasa sakit dalam diri?

jika tak seorang pun
tak memiliki kejelekan,
kenapa harus malu
saat menyadari dua
atau tiga kejelekan dalam diri?

jika tak seorang pun
tak pernah melakukan kesalahan,
kenapa harus bohong
saat merasakan tiga
atau empat rasa bersalah dalam diri?

Subhanallah...
terimakasih telah menganugerahkan
untukku satu lagi inspirasi sempurnaMu
malam ini...

09 April 2009

Ngopi bareng Sang Bandar


Malam ini saya kembali mendapat undangan ngopi tapi kali ini tidak seperti biasanya, bicara serius dengan segepok storyboard dan sederet angka, melainkan sebuah undangan launching sebuah café di Pondok Indah Mall.

Bandar Kopi, café yang kebetulan milik seorang teman dan partner saya itu membuat saya banyak diam dan berpikir.

Lhohh..kok..!?

Iya, sebab diantara sekian banyak cafĂ© yang bermunculan di tanah air, hampir semuanya menggunakan trade-mark ’ala British, American atau ke-Itali-italian gitu deh.

Sebenarnya, diam dan berpikir saya itu bukannya tanpa sebab. Beberapa malam sebelumnya saya ditelfon kawan, seorang seniman gondrong-dekil. More/less dengan mantabnya berbunyi gini:

”Haloo bro, malam ini aku mengundang dirimu minum kopi kapitalis. Ada waktu gak?”

”Hahh? Kopi kapitalis itu opo?”, saya cekikikan tapi ekspresi bingung.

”Halah.. ngopi di cafĂ©2 bule di mall itu lho, biar kayak para kapitalis, hahaha...”

Saya pun ngakak sejadi-jadinya. Beginilah bagian yang saya suka saat bergaul dengan sahabat2 seniman murni dari Jogja yang selalu siap dengan ide segar yang apa adanya.

Well, cerita di atas memang sederhana, tapi tema ’kopi kapitalis’ itu begitu menggelitik otak-hati ini dan sudah cukup untuk memaksa saya merenung, berimprovisasi lalu membatin, ”iyha..yhaa..!”

Kembali ke Bandar Kopi, ketika saya mengadakan sedikit diskusi nggak resmi dengan teman saya pemilik Bandar Kopi yang sejatinya juga seorang wanita pelukis yang cukup produktif itu, saya seperti mendapat pencerahan. Ternyata apa yang saya pikirkan sejak awal, justru itulah yang menjadi visi dan motivasi dia dalam mendirikan Bandar Kopi ini.

Dia bilang: kopi, kopi kita, tumbuh di tanah kita, oleh petani kita, lalu dibungkus merk dagang asing, dijual lagi ke kita di rumah kita dengan harga selangit. Tapi kita tetep bangga tiap kali nongkrong di sana dengan merasa keren dan stylish gitu.

Hmmm... saya melongo atau entahlah, kurang yakin dengan ekspresi saya saat itu. Tapi saya merasa semua itu benar dan begitulah faktanya. Itu sama aja cerita tentang calon presiden yang berjanji mensejahterakan indonesia, mengangkat harkat bangsa, membela rakyat kecil, eee... ternyata iklan kampanyenya disutradarai bule. Hehe... bukanya jealous lhoh, tapi ini juga ironi dan bisa ada di sini. Belum lagi iklan minuman dengan copy-writing yang terasa meremehkan saya: ”Bule aja doyann....!” Tiap kali iklan itu tayang saya jadi pengen ngomong: ” justru itu gue gak doyan!”

Ah, sudahlah...

Kembali ke Bandar Kopi, sejujurnya, dari tampilan set artisticnya, proses pembuatan, servis dan rasa kopi yang saya minum di sana, tidak ada yang kurang atau kalah dari cafe-cafe ngetop lainnya. Saya pikir tidak ada alasan untuk tidak mendukung at least mendoakan semangat kawan yang layak diacungi dua jempol ini, karena saya tahu, ini tidak mudah bersaing dengan brand-brand yang sudah establish di seluruh dunia itu.

Dengan mantab saya jabat tangan teman saya sang bandar dan saya bilang:
”Congrats mbak.. Semoga bisa mewakili harga diri bangsa ini, paling tidak mulai dari sisi Taste....!”

Amin...

12 February 2009

PARA PROTEKTOR, Finally....

Akhirnya…! Kali ini saya boleh sedikit berbangga dengan apa yang baru saja saya lahap di hadapan saya. Mau tau??

Sebuah KOMIK INDONESIAAAA…!!!

Ehm..ehmm..(serak). Ya, PARA PROTEKTOR memang sedang mencuri perhatian saya. Sama sekali bukan karena salah seorang kartunisnya kebetulan teman baik saya, tapi barangkali lebih disebabkan adanya imajinasi saya yang tiba-tiba merasa terpenuhi di sini. Bukan imajinasi muluk, tapi sekedar angan-angan manusia Indonesia asli yang kadang merindukan logika-lokal dalam memahami sebuah plot kehidupan.

Saya menyebutnya logika-religi yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat kita di samping logika antropologis yang tentu sewajarnya sudah kita pahami. Dan PARA PROTEKTOR menghadirkan hampir semua kelebihan-kelebihan Super Hero barat yang berteknologi namun tetap dengan logika Sabang sampai Merauke yang pas. Ini luar biasa! Saya bisa tetap mengalir tanpa banyak bertanya-tanya sinis dalam hati sebagaimana biasanya memahami paparan logika-Atheis yang kadang aneh. Artinya, komik ini masih melibatkan The Unseen Power tidak lain adalah Tuhan sebagai sumber satu-satunya semua kekuatan di dunia.

Sebut saja karakter Sang Guru dari Serikat Para Protektor. Dalam penangkapan saya, ia seorang bijak-alim-zuhud yang dekat dengan Tuhan. Pantas saja jika ia kemudian menerima ’Karomah’ berbagai kelebihan melebihi manusia biasa. Kegelisahannya akan berbagai kejahatan di Tanah Air mengilhaminya untuk membentuk serikat Para Protektor dengan merekrut beberapa anggota yang masing-masing punya supra talenta berbeda-beda seperti Matahari (latar belakang militer, asal Garut), Aura (Seorang Guru SD asli Papua), Elektro (Seorang Engineer jenius), dan Afiat (Perawat asal Aceh).

Dalam tugas mereka mendefinisikan yang Haq dan Bathil, mereka berhadapan langsung dengan kelompok PDD atau Persaudaraan Dalam Darah yang dikomandani oleh tokoh Manipulator yang juga cerdas tapi licik. Beranggotakan LAVA (Live Android for Vicious Armageddon), Kinetik (Rocker asal Medan), Veromona (Profesor biologi asal Manado), Shooter (tentara bayaran dari Ambon), Molekul (ahli nuklir asal Lampung), Sopran (bernama asli Siti Marlina, penyanyi dangdut asal Sidoarjo) dan Shadow (bernama asli a.k.a. Sukanto, si pemakan manusia dari Klaten).

Berbagai intrik, suspense dan sisi touchy tentus aja mengimbangi adegan-adegan laga yang tersaji apik dan berteknologi di komik keluaran Paracomics Publisher ini. Kalaupun harus mengkritisi atau sekedar masukan, menurut saya perlu sedikit definisi yang lebih detil dalam scenes-period, kapan kejadian plot ini berlangsung, past, present atau future. Hal itu tentu saja perlu untuk memenuhi detil pengejawantahan gambar baik logic setting maupun propping yang berlaku dalam setiap adegan.

Kembali ke imajinasi saya, membaca komik ini tiba-tiba saya kembali teringat Frank Miller, Robert Rodriguez dan Tarantino. Adrenalin ini tiba-tiba kembali naik perlahan untuk mewujudkan sesuatu yang dulu pernah meledak-ledak.

Ehmm...(serak lagi). Apapun itu mohon keikhlasan doanya saja ya...

InsyaAllah...

SAR, Jakarta 120209


Judul : Para Protektor | Supra Talenta Saga

Karya : Poempida Hidayatulloh, Irham, Koko Prabowo

Penerbit : Paracomics Publisher, Jakarta

Tahun : Cetakan pertama Januari 2009



17 September 2008

Rama, Shinta and Me...

Rama dan Shinta adalah dua ekor monyet yang sedang terlibat dalam sebuah pergulatan emosi bercinta. Emosi yang sewajar dan senormalnya musti dilalui oleh setiap makhluk yang mengaku hidup ciptaan Tuhan. Menjadi begitu, karena memang Tuhan pun menciptakan rasa cinta sebagai bagian dari hidup, seperi Dia menciptakan oksigen atau air.

Sebulan lalu Rama merasa perlu untuk menumpahkan apa yang dirasa tentang sekelumit ’beat’ cinta melalui degub dadanya kepada Shinta sang monyet betina.

Shinta (seperti tradisi aneh perempuan lain): ”Apa harus aku jawab sekarang?”
Rama (pun mengikuti tradisi aneh para pria dengan menahan diri): ”Ya kalau belum ada jawaban aku tunggu sampai kamu siap...”

Hanya itu, dan setelah sebulan berjalan Shinta semakin bingung. Karena seperti bathinnya saat itu, ia seharusnya bisa mendapat lebih dari sekedar Rama yang hanya seekor monyet liar. Meski hati kecilnya harus mengakui bahwa sejak awal hatinya pun punya rasa sayang untuk tipikal Rama. Tapi sebagai betina, ia pun musti ikut-ikutan tradisi bahwa perempuan sebisa mungkin harus mendapatkan si raja monyet biar masa depan hidupnya bahagia, berlimpah dengan buah-buahan segar yang bebas kapanpun ia mau petik. Paling tidak se-level di atas Rama pun it’s fine laah...

Selain menunggu sambil sedikit melempar rayuan dan godaan maut pada setiap jantan yang dijumpainya terutama sang raja, Shinta pun semakin bimbang. Kini lebih banyak lagi jantan yang harus ia pertimbangkan dan semuanya menunggu jawaban. Jika mau jujur, ia lebih cenderung ke Rama, meski masih ada sesuatu yang mengganjal tentangnya, entah apa itu. Tapi, lagi-lagi ia harus menerapkan tradisi aneh kaum betina bahwa kesungguhan Rama harus diuji terlebih dulu. Maka Shinta pun merasa perlu untuk berpura-pura.

Rama: Sudah lebih sebulan dan kamu belum bisa menetapkan hatimu untuk niat baikku?
Shinta: Tidakkah kamu tau bahwa betina memang harus begitu?
Rama: Maksudmu harus menggantung dan menjadikan jantan sebagai pilihan?
Shinta: Mungkin itu benar, tapi betina juga harus malu.
Rama: Malu itu harus! Tapi jangan samakan dengan gengsi...
Shinta: Maksudmu?
Rama: Kalau mengakui isi hatimu saja kamu begiitu sombong, bagaimana kelak kamu harus merendahkan diri dengan menyayangi aku dan anak-anak kita?
Shinta (terdiam sebentar): Kok kamu jadi ge’er? Lagian belum lama kamu tau aku, kenapa sudah bilang cinta?
Rama (tersenyum): Bagiku waktu segitu sudah cukup untuk pahami isi hatiku.
Shinta: Kok bisa? Gimana jika kenyatan sesungguhnya aku adalah pelacur?
Rama: Aku akan tetap mencintaimu.
Shinta: Gombal!
Rama: Aku bersumpah!
Shinta: Kenapa?
Rama: Ya, hanya karena itulah aku disebut jantan.
Shinta: Hanya itu?
Rama: Karena aku selalu berusaha mencintai kelemahanmu.
Shinta (sinis): Emang kamu tau kelemahanku, Huh..?!
Rama: Sangat jelas.
Shinta (sewot): Sok tau! Emang kamu tau dari mana?
Rama (masih tersenyum): Karena sampai hari ini aku sudah berkali-kali dicintai dan mencintai betina karena kelebihan mereka yang tidak satu pun kelebihan-kelebihan itu kujumpai dari kamu sampai detik ini.

Shinta terdiam, tertunduk. Otaknya berputar keras berusaha menangkis kata-kata Rama, dadanya berdegub kencang menahan sakit hati, tapi batinnya belum mampu membantah ucapan monyet jantan dihadapannya.

Shinta: Sebenarnya apa yang sedang kamu harapkan dari aku?
Rama: Sebenarnya sederhana saja. Cintai aku karena kelemahanku. That’s it...
Shinta: Kenapa begitu?
Rama: Karena aku tau, terlalu banyak jantan yang kau cintai karena kelebihan mereka.

Rama melompat ke sebuah cabang pohon lain tak jauh dari Shinta yang semakin berkecamuk tak karuan. Di dalam dadanya masih terjadi silang sengkarut khas ala kaum betina, antara setuju, sakit hati, gengsi dan kesombongan. Tapi ternyata energinya terlalu lemah untuk pertarungan itu saat Rama berpamitan untuk pergi jauh dan sebisa mungkin tidak akan kembali lagi.

Rama: Mulai sekarang, lupakan semua ucapanku biar engkau lebih bebas memilih apa yang kau inginkan…

Rama melompat semakin menjauh hendak pergi.

Shinta: Rama...!

Rama terhenti, bergelantungan di sebuah cabang pohon tanpa menengokkan wajahnya ke arah Shinta yang menatapnya dalam-dalam.

Shinta (berbisik): Kini aku tau, kamulah jantan yang paling mencintai aku Rama... Kamulah jantan yang ingin kucintai selama ini...

Rama: Maafkan aku Shinta... Aku tidak ingin kau mencintai aku karena kau anggap aku sehebat itu. Aku hanya ingin kau mencintai kelemahanku agar hidup ini indah...

Shinta terguncang hebat. Ia hanya bisa menatap Rama yang mulai menjauh. Tapi belum begitu jauh, tiba-tiba Rama kembali berhenti. Kali ini ia menengok, menatap wajah Shinta dalam-dalam.

Rama: Ada yang lupa kukatakan... Aku baru sadar hari ini, sungguh! ternyata kau saangat cantik.... Selamat tinggal Shinta...

Rama kini melompat sangat jauh dan benar-benar menjauh.

”Monyet sialan.. monyet sok....!”
Saya menggerutu habis-habisan karena puluhan biji kacang yang saya lemparkan, hanya beberapa saja yang termakan. Sampai saya menangkap ekspresi tunduk yang luar biasa dari monyet betina di dekat saya. Sesekali masih menatap si jantan yang kini berkerumun dengan betina-betina lain di ujung kandang sebelum tertunduk kembali.

Saya pun ngga bisa untuk ngga tertegun menatap ekspresi jujur di hadapan saya. Tapi itu real sekali dari seekor monyet. Saya memang termasuk yang kurang yakin akan kebenaran theori Darwin, tapi ngga bisa mengelak juga dengan bukti empiris bahwa monyet mempunyai volume otak cukup besar. Sampai saya menebak dan merangkaikan bahasa romance yang menurut saya luar biasa tersaji begitu saja di hadapan saya sebagai anugerah.

Tentu saja, biar saya dedikasikan karya ini untuk 'para monyet' sajalah...



(WARNING: Original story by Sigit Ariansyah for International Short Film Festival)


16 September 2008

Zakat Maut itu...

Mau mulai menulis dari mana, saya bingung!

Rasanya seperti hampir meledak, hari ini saya berkumur dengan nasi yang tiba-tiba hambar di mulut melongo saat TV di depan saya menyajikan berita duka yang sesungguhnya terjadi setiap tahun. 21 orang ibu-ibu dan nenek-nenek tewas kehabisan oksigen dan puluhan lagi dirawat dirumah sakit ketika berebut zakat bersama 7 ribu rakyat miskin lainnya.

Demi Allah! Zakat itu adalah hak mutlak bagi kaum miskin, dan kewajiban yang ngga bisa ditawar bagi yang kebetulan kaya.

Ironinya, untuk sebuah hak yang wajib mereka dapatkan, para ibu itu justru di-set lebih mirip mengemis massal dan mengubangkan diri dengan memohon-mohon di halaman rumah mewah sang dermawan. Sungguh, ekspresi-ekspresi yang tertangkap kamera sangat membuat hati saya sakit.

Bayangkan, untuk jatah 30 Ribu Rupiah per kepala yang barangkali ludes untuk makan sehari dengan 4 orang anak, mereka rela kehilangan nyawa. Sementara bisa jadi meja makan di hadapan kita bernilai tidak kurang dari Rp. 300.000 untuk sekali makan dan kita masih berani tersenyum sebagai saudara sebangsa.

Sebenarnya apa yang salah dengan otak dan hati Bangsa besar ini? Mekanisme kah? Atau kebodohan? Semua orang lalu berteriak tentang itu.

Sang pembagi zakat pun berkilah, sejak tahun 70an tradisi ini sudah berlaku dan selama itu aman-aman saja.

Saya bilang, itu berarti orang miskin di kampung loe nambah! Dan kalo masih mau bertahan dengan pola pikir juragan kolonial ya hidup aja di hutan. Apa musti semua orang harus tau bahwa loe berzakat, sampe-sampe kewajiban itu harus dibagi di halaman rumah?

Polisi pun ngeles: Tidak ada pemberitahuan apapun kepada pihak kami bahwa akan ada acara pembagian zakat.

Hmm... saya berpikir, mungkin pak Haji sudah tidak mau repot lagi ngeluarin ongkos tambahan di luar zakat yang tidak termasuk dalam pahala, malah bisa-bisa uang itu dibilang syubhat, lagi...

Si pembaca berita menyayangkan: Kenapa sih nggak menggunakan badan Amil zakat resmi saja yang ditunjuk oleh pemerintah? Kan lebih terorganisir dan aman?

Lagi-lagi saya menebak, Pak Haji si Dermawan itu mungkin membatin ”Siapa yang ngurusin? Depag? Departemen terkorup itu? Kali aja dia termasuk rombongan haji yang dulu pernah terlantar karena catering haji dari depag terlambat, udah gitu lauknya ngga layak karena disunat dan basi pula.

Wallahu a’lam bisshawab....

Well, diluar tebak-menebak yang sebenarnya ngga imajinatif juga, karena itu memang nyata, tampaknya bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini musti banyak belajar menggunakan hati agar pandai merasakan, bukan hanya pintar berhitung.

Duit, rizki dan nafkah selalu menjadi tema yang terlalu seksi bagi bangsa ini. Ketika Inul dan Dewi Persik diprotes soal goyang panggungnya, dengan enteng mereka berkilah: ”Lho.. niat saya kan cari nafkah?” atau ”Ini kan jalan rizki saya..” bla..bla..bla... Wah, tar maling, pengedar CD bokep dan koruptor juga boleh dong...

Wajar saja, karena kemiskinan adalah horor yang begitu ditakuti semua orang. Maka itu para orang tua hari ini pun masih merasa perlu untuk memaksa anak-anak mereka untuk menjadi ”kaya” dan ”terkenal” bukan menjadi ”baik” dan ”pintar”. Demikian juga nasehat untuk anak yang berangkat kerja masih berbunyi: ”Baik-baik dan dekatlah sama bosmu biar kerjamu lancar...” bukanya ”Bekerjalah yang baik dan benar biar kamu berguna..”! Ujung-ujungnya profesi dukun dan motivator laris manis saat jalan mulai buntu. Hmm...masih sama seperti jaman dulu. So, kemajuannya di mannaaa...... (ngga perlu tanda tanya lagi).

Wait...wait... bukan berarti saya anti dengan duit ya... tapi paling tidak sampai hari ini saya masih berpendapat bahwa semakin baik dan maju apa yang kita kerjakan, pasti akan mendatangkan rizki yang lebih baik pula, secara otomatis. Memang, syaratnya KKN tidak boleh terlibat di sini. Lha wong udah mati-matian kerja aja masih ada produser yang tega ngga mau bayar kok..! hehe... tapi itu soal person. InsyaAllah saya optimis, bangsa ini ke depan akan semakin cerdas menyikapi hitam dan putih. Amin...

Saran, barangkali untuk pembagian zakat di kampung, door to door saya rasa akan jadi pilihan yang lebih efektif. Beberapa Amil zakat saja cukup, karena memang ada jatah menurut syari’ah untuk Amil zakat. Tapi kelemahan metode itu memang ada, si pemberi zakat tidak lagi heboh dan tenar sampe ke mana-mana. Masih mau zakat kan..?

Pilih dengan hati bukan otak...!

02 September 2008

Kembali Ramadhan....

Seperti tersedot, aku justru menjadi masa kecilku jauh di Makasar, kali ini.
Tersendat, tercekat luluh untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hampir terlupakan.
Suara-suara itu melantun secara apa adanya, secara kampungan dari corong masjid yang juga sudah lama tak lagi menggeletar di gendang telingaku.

Suara-suara dalam dan indah itu yang dulu menggandeng tanganku, membimbing hatiku tiap kali Ramadhan menjelang.
Hiruk dalam sepi, sejuk dalam kering diri seorang laki-laki kecil yang tak pernah merasa memiliki maupun dimiliki oleh siapapun.
Laki-laki kecil sombong keras-kepala, yang kelak akan jatuh bangun dalam sujud-sujud pemikirannya sendiri, membangun mimpi-mimpinya hanya berdua dengan Penciptanya, lalu membuktikan sedikit senyum sebelum kembali tertunduk dalam tangis, pada Ilahnya..

dan malam ini, masih seperti malam-malam kemarin, kembali membisikkan sesuatu yang sama di hati ini. "Tak banyak yang mengerti engkau wahai laki-laki kecil, tak banyak yang sanggup memahami mimpi terlampau besar-mu. Tapi tetaplah tegap dan bersyukur menjadi dirimu sendiri, seperti biasanya...

Marhaban Yaa Ramadhan..
suara tarhim itu kembali membasahi rongga ini, meski hari-hari penuh berkah itu tak lagi seindah dulu, ketika aku bisa benar-benar hanya berdua dengan Ilah-ku....

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Colgate Coupons