18 September 2011
The Red Violin
| Reactions: |
08 September 2011
Membaca Selimut Debu
Lagi, kali ini saya ingin rekomendasikan anda untuk membaca buku keren ini. Ya, buku setebal 461 halaman ini dalam sekejap menerbangkan imaji saya menelusuri padang rumput luas, pegunungan terjal bersalju dan tentu saja hamparan tanah kering berdebu Afganistan.
Posted in: REVIEW| Reactions: |
04 September 2011
Persepolis
Inilah salah satu film animasi dua dimensi yang luarbiasa, menurut saya. Saya sangat rekomendasikan anda menontonnya, meski anda tetap harus smart dan bijak dalam memahami apa yang disampaikan film ini, sebelum anda menilai dengan fair.
Posted in: REVIEW| Reactions: |
01 September 2011
Dari Hilal Sampai Toleransi
Posted in: SPIRITUAL MOMENT| Reactions: |
14 May 2011
Eat Pray Love
Kegetolan saya nonton film ini memang tidak lepas dari hebohnya Indonesia membicarakan film yang dibintangi Julia Robert ini karena lokasi shootingnya yang melibatkan Bali. Ya, memang Indonesia begitu heboh. Tak kurang dari Menteri Budpar, jauh hari tak henti-hentinya mengkampanyekan film ini di berbagai stasiun TV. Sebuah perlakuan yang sangat istimewa, sampai-sampai saya sempet ngiri, andai pemerintah memperlakukan film Indonesia seperti ini…
Baiklah… Secara konsep, saya berpendapat, ini film bagus dengan materi bahasan yang mendalam dengan tiga set lokasi berbeda; Italy yang merepresentasikan makanan, India dengan spiritualitasnya dan Bali yang digambarkan sebagai muara tempat berlabuhnya jawaban atas perjalanan cinta maupun spiritualitas itu.
Ya, Eat Pray Love memang bukan cerita baru bagi tradisi film-film Amerika. ia hanyalah pencarian solusi yg amburadul bagi personal problem tipisnya spiritualitas khas org Amrik. Nah, atas problematika tersebut, saya merasa film ini kurang tegas dalam memposisikan masing-masing karakternya. Di mana-mana saya menemukan kegamangan jawaban-jawaban spiritual yg sejujurnya menurut saya kurang sepenuhnya menjawab.
Karakter Ketut sebagai tokoh spiritual yang bijak di Bali sebenarnya cukup kuat. Dialah muara jawaban dari seluruh perjalanan problem spiritual JR menemukan titik terangnya. Namun itu sedikit terkikis justru menjadi anti klimaks dengan hadirnya karakter pacar JR asal Brazil yang sudah lama tinggal di Bali.
Pacar Brazil di Bali..! Hmmm… dari gatel, kini bokong saya mulai memanas di sini. Kenapa? Pertama, hanya gara-gara orang Brazil di Bali, frame yang berisi landscape sawah dan penduduk asli Bali, eee.. backsoundnya kok dikasih musik latino. Plis deh dong…! Yang kedua, apa nggak lebih oke jika Julia Robert jatuh cinta sama orang lokal Bali aja biar set cerita di Bali ini gak kerasa terlalu maksa. Jauh-jauh dari Amrik ke Bali, ketemunya orang Brazil which is Amrik juga. hadeeh…
Yang juga saya sayangkan, Director sepertinya kekurangan energy untuk mengeksplore segitu banyaknya landmark Bali yang cukup iconic di mata dunia. Yang ada justru beberapa sudut kecil yang ambigu, seperti pasar buah tradisional yang sebenarnya ada di seluruh Indonesia.
Sialnya, itu semua diperburuk dengan hadirnya tokoh yang diperankan Christine Hakim sebagai seorang single parent yang jago dalam hal pengobatan tradisional. Meski acting mbak Christine cukup bagus, tapi di sini Bali jadi semakin absurd, Bali kok justru lebih mirip atmosfir Tiongkok tradisional. Sialnya lagi, (kok kebanyakan sial ya??… bodo ah..) Christine Hakim punya anak cewe cantik dan lucu, yang bahasa inggrisnya itu loh.. jago buanget untuk ukuran anak Bali seusia itu. Automatically langsung mengingatkan saya pada anak-anak International School di Jakarta.
Kecuali catatan diatas, untuk eksplorasi antropologis sisanya di masing-masing set (Italy, India, Bali) saya anggap cukuplah. Nah, truss yang ini gak kaget. Ini sangat typical Hollywood, yup! seperti biasa, 'Kissing before Ending…!' "Hmmm… but can you guys, find another way pliiiiiis….?"
Biasanya, saya termasuk yang bisa menikmati flow lambat dari sebuah film. Tapi dengan berat hati saya harus jujur, bahwa di film ini bokong saya sudah gatel sejak seperempat jam awal. Gimana nggak, director mengeksplore tiap-tiap set maupun adegan secara berulang-ulang untuk sebuah ungkapan dengan tujuan yang sama dan itupun begitu monoton. Gampangnya, andai saya boleh ngomong saat itu, saya akan teriak "iya..iya.. ane udah paham kalee…"
Kesimpulannya, untuk nonton Eat, Pray, Love ini saya sarankan, you better Eat before watching, Pray to be ended soon, then you can go home to make Love…. hehe.. piss....
Posted in: REVIEW| Reactions: |
20 March 2011
Membaca Sabda Palon
Posted in: FIGURE| Reactions: |
30 December 2010
Garuda Tetap di Dada
Nggak banyak tentang nasionalisme yang bisa membuat saya merinding setelah semangat bambu runcing nenek moyang kita dahulu. Tapi yang ini saya akui, saya terharu dan bangga dan merinding dan.. dan.. dan…!
Itu lebih dari cukup membuat saya melupakan kekalahan yang faktanya hanyalah bersifat angka-angka score. Bagi saya dan mungkin bagi bangsa ini, secara moral kitalah pemenangnya dengan cukup fair dan jantan tanpa harus menggangu pemain lawan dengan tindakan-tindakan licik (untuk tidak menyebut pengecut) seperti yang diterima pemain kita saat bermain tandang.
Supporter Indonesia tetap menyambut tim kesayangan sejak latihan di lapangan, di hotel dan di bandara, bahkan dukungan itu nggak juga padam meskipun timnas akhirnya kalah. Di sini saya menangkap, betapa loyalitas mereka benar-benar didedikasikan bagi sebuah perjuangan, untuk 'the real hero' mereka. Bukan dukungan untuk sekedar sekeping piala, tropi atau medali semata. Hari gini, di republik ini, nggak banyak yang bisa menerima loyalitas sebesar ini dari masyarakat.
Saya berani jamin, andai bus rombongan timnas beserta pengawal dan vorijder mereka membelah kemacetan di Jakarta, maka tak ada satu pun yang protes atau keberatan. Justru mereka akan dielu-elukan. Tapi coba presiden, apalagi menteri yang mendahului dengan pengawalan khusus saat kita lagi macet. Rasanya pasti dongkol dan arrghhhhh..!!!!
Kenapa begitu?
Simple saja, rakyat tahu betul siapa pahlawan mereka yang sesungguhnya dan siapa yang memaksakan diri agar dianggap 'pahlawan'. Padahal pahlawan yang sebenarnya, seringkali tidak peduli apakah dia pahlawan atau bukan.
Percayalah "Garuda di dadaku" tak akan pernah berhenti bergaung dalam hati rakyat..!
Posted in: SNAPSHOTS| Reactions: |
17 November 2010
UNFOLLOW AJJAHH...
Posted in: FREETALK| Reactions: |
28 October 2009
Cool & Sexy

Sekali-kali duduklah di pinggir jalan, sendiri, jangan ber-sms atau melakukan apapun selain mengamati satu demi satu makhluk, bisa manusia atau apapun yang lewat di depan anda. Jika anda beruntung, akan ada banyak pelajaran diri yang didapat. Seperti yang baru saja saya alami, hehehh..
Dari kejauhan, seorang pemuda berkacamata hitam dengan pundak tinggi sebelah sedang berjalan 'cool' ke arah saya. Setiap kali berpapasan dengan orang lain ia selalu meraih bagian atas hidungnya untuk sedikit menaikkan posisi kacamata hitamnya. Berulang kali, ya, setiap kali berpapasan. Sementara ia memilih memasukkan satu tangan lainnya ke dalam saku celana depan. Hmm..
Nah..! Kali ini dari arah berlawanan, saya menangkap seorang cewek dengan dandanan cukup seksi, juga dengan kacamata yang lebih tepat disebut kacamuka, karena hampir menenggelamkan sebagian wajahnya. Agak lebih dekat.. Ups..! Ternyata ia cukup berumur, seorang ibu-ibu rupanyanya. Cukup trendi dengan sepatu hak tinggi, hingga mampu memantul-mantulkan bokongnya dan menggoyang-goyangkan dadanya saat berjalan. Huff...
Saya pun mulai megukur dan mengatur focal-length lensa mata saya. Satu hal yang saya pikikirkan, apa yang terjadi saat dua orang yang saya amati ini bertemu? Hmm.. tau nggak? Sekitar satu setengah atau dua meter sebelum berpapasan, dua-duanya jelas langsung beda cara berjalannya, gesture-nya. Ekspresinya pun jadi lebih beragam. Senyum si wanita lebih mengembang dengan lipstik merahnya, mulut si cowok kini monyong bersiul. Pada jarak yang dianggap cukup dekat, tanpa ragu-ragu si cowok mengarahkan pandangan ke arah si wanita tanpa basa-basi, cukup frontal hingga sudah lewat pun kepalanya ikut menengok ke belakang. Sementara si wanita tampak hanya matanya yang melirik dari balik kacamukanya yang memang tidak terlalu gelap. Seperti cuek, tidak peduli, tapi saya bisa menangkap intensitas pantulan dalam caranya berjalan kini bertambah cukup drastis.
Emangnya kenapa? Ada yang salah dengan mereka?
Oww.. tidak.. itu wajar dan manusiawi. Bahkan saya maupun anda barangkali sering melakukannya. Ngaku aja! Bahkan sedikit-banyak kita pun bisa menerjemahkan apa yang ada di dalam hati mereka saat seperti itu, dari pengalaman-pengalaman kita juga.
Mungkin saja, si cowok berpikir "I'm Cool man.. Soo cool..." seperti kita juga pernah merasa begitu saat mengenakan kacamata hitam dan puluhan kali melirik spion kendaraan kita sepanjang perjalanan. Begitu juga bagi si wanita. Saya kok yakin, dia berpikir "Wuihh.. Take a look at me guys.. I'm soo sexy for your eyes..."
Sudahlah... semua manusia hidup pernah alami itu, bahkan mungkin memang butuh itu. Memaksimalkan diri menjadi sebuah object.
Object?!
Ya! Object untuk dilihat, didengar, dipuji, dimiliki dan seterusnya. Tapi masalahnya, saat ini saya sedang mengajak anda menjadi 'subject' yang mengamati object-object di trotoar jalan itu saat saya dan anda tidak sedang menjadi object.
Masalahnya lagi, apa iya, si cowok itu benar-benar 'cool' seperti yang ia pikirkan as an object? Kalau anda memaksa saya untuk jujur as a subject, sejujurnya saya lihat cowok itu nggak begitu cool, malah terkesan lucu meski itu wajar.
Dan si wanita? Jujur??!
Hmm... Gimana ya.. Sebagai subject, sayangnya saya ini laki-laki normal. Pertama-tama, secara otomatis mata saya tersedot dengan sendirinya dan susah untuk merubah angle, terus caranya berdandan dan berjalan itu lho.. membuat kepala ini membayangkan yang 'iya-iya' sambil mencoba menebak-nebak posisi dan tata letak beberapa perangkat lunak yang sebenarnya itu cukup memalukan untuk diceritakan. Parahnya lagi, semua itu saya alami bersamaan dengan perasaan berdosa yang tidak henti-hentinya menonjok-nonjok ulu hati saya.
Astaghfirullah...
Begitu sadar, walah.. si wanita itu juga jadinya lucu. Ngapain dia berpakaian dan berjalan kayak gitu ya? Kalaupun itu merupakan bentuk usaha agar ia merasa seksi setelah pinggul dan dadanya terguncang-guncang, lama-lama apa nggak masuk angin trus kecapekan?
Hmm... ya sudah.. Ada yang protes? Itu semua memang subyektif, karena memang hadir dari subyektifitas saya yang saat ini sedang menjadi Subject. Yang jelas Dalam hati saya bersyukur, dilahirkan dari seorang ibu yang berpakaian sangat tertutup dan berjalan biasa-biasa saja dan tidak lucu. Nah, sekarang tinggal berdo'a semoga saya tidak terlalu sering merasa sok 'Cool" dan berjalan agak mendongak di bumi Tuhan ini. Amin...
Hanya itu? Bagaimana dengan makhluk lain?
Yaa, biasa lah.. ada beberapa ekor kucing yang sangat berisik dan bernafsu berebut sisa makanan di tong sampah dekat saya, selain beberapa Cherokee, Hammer, Mercedez, BMW seri terakhir yang mondar-mandir bikin ngilu sekaligus ngiler hati ini..
Hehehh...
Posted in: SNAPSHOTS| Reactions: |
01 June 2009
Perfect
jika tak seorang pun
terbebas dari penyakit,
kenapa kita begitu panik
saat menemukan hanya satu
atau dua rasa sakit dalam diri?
jika tak seorang pun
tak memiliki kejelekan,
kenapa harus malu
saat menyadari dua
atau tiga kejelekan dalam diri?
jika tak seorang pun
tak pernah melakukan kesalahan,
kenapa harus bohong
saat merasakan tiga
atau empat rasa bersalah dalam diri?
Subhanallah...
terimakasih telah menganugerahkan
untukku satu lagi inspirasi sempurnaMu
malam ini...
Posted in: SPIRITUAL MOMENT| Reactions: |
09 April 2009
Ngopi bareng Sang Bandar

Malam ini saya kembali mendapat undangan ngopi tapi kali ini tidak seperti biasanya, bicara serius dengan segepok storyboard dan sederet angka, melainkan sebuah undangan launching sebuah café di Pondok Indah Mall.
Bandar Kopi, café yang kebetulan milik seorang teman dan partner saya itu membuat saya banyak diam dan berpikir.
Lhohh..kok..!?
Iya, sebab diantara sekian banyak cafĂ© yang bermunculan di tanah air, hampir semuanya menggunakan trade-mark ’ala British, American atau ke-Itali-italian gitu deh.
Sebenarnya, diam dan berpikir saya itu bukannya tanpa sebab. Beberapa malam sebelumnya saya ditelfon kawan, seorang seniman gondrong-dekil. More/less dengan mantabnya berbunyi gini:
”Haloo bro, malam ini aku mengundang dirimu minum kopi kapitalis. Ada waktu gak?”
”Hahh? Kopi kapitalis itu opo?”, saya cekikikan tapi ekspresi bingung.
”Halah.. ngopi di cafĂ©2 bule di mall itu lho, biar kayak para kapitalis, hahaha...”
Saya pun ngakak sejadi-jadinya. Beginilah bagian yang saya suka saat bergaul dengan sahabat2 seniman murni dari Jogja yang selalu siap dengan ide segar yang apa adanya.
Well, cerita di atas memang sederhana, tapi tema ’kopi kapitalis’ itu begitu menggelitik otak-hati ini dan sudah cukup untuk memaksa saya merenung, berimprovisasi lalu membatin, ”iyha..yhaa..!”
Kembali ke Bandar Kopi, ketika saya mengadakan sedikit diskusi nggak resmi dengan teman saya pemilik Bandar Kopi yang sejatinya juga seorang wanita pelukis yang cukup produktif itu, saya seperti mendapat pencerahan. Ternyata apa yang saya pikirkan sejak awal, justru itulah yang menjadi visi dan motivasi dia dalam mendirikan Bandar Kopi ini.
Dia bilang: kopi, kopi kita, tumbuh di tanah kita, oleh petani kita, lalu dibungkus merk dagang asing, dijual lagi ke kita di rumah kita dengan harga selangit. Tapi kita tetep bangga tiap kali nongkrong di sana dengan merasa keren dan stylish gitu.
Hmmm... saya melongo atau entahlah, kurang yakin dengan ekspresi saya saat itu. Tapi saya merasa semua itu benar dan begitulah faktanya. Itu sama aja cerita tentang calon presiden yang berjanji mensejahterakan indonesia, mengangkat harkat bangsa, membela rakyat kecil, eee... ternyata iklan kampanyenya disutradarai bule. Hehe... bukanya jealous lhoh, tapi ini juga ironi dan bisa ada di sini. Belum lagi iklan minuman dengan copy-writing yang terasa meremehkan saya: ”Bule aja doyann....!” Tiap kali iklan itu tayang saya jadi pengen ngomong: ” justru itu gue gak doyan!”
Ah, sudahlah...
Kembali ke Bandar Kopi, sejujurnya, dari tampilan set artisticnya, proses pembuatan, servis dan rasa kopi yang saya minum di sana, tidak ada yang kurang atau kalah dari cafe-cafe ngetop lainnya. Saya pikir tidak ada alasan untuk tidak mendukung at least mendoakan semangat kawan yang layak diacungi dua jempol ini, karena saya tahu, ini tidak mudah bersaing dengan brand-brand yang sudah establish di seluruh dunia itu.
Dengan mantab saya jabat tangan teman saya sang bandar dan saya bilang:
”Congrats mbak.. Semoga bisa mewakili harga diri bangsa ini, paling tidak mulai dari sisi Taste....!”
Amin...
Posted in: FREETALK| Reactions: |
12 February 2009
PARA PROTEKTOR, Finally....
Akhirnya…! Kali ini saya boleh sedikit berbangga dengan apa yang baru saja saya lahap di hadapan saya. Mau tau?? Sebuah KOMIK INDONESIAAAA…!!!
Ehm..ehmm..(serak). Ya, PARA PROTEKTOR memang sedang mencuri perhatian saya. Sama sekali bukan karena salah seorang kartunisnya kebetulan teman baik saya, tapi barangkali lebih disebabkan adanya imajinasi saya yang tiba-tiba merasa terpenuhi di sini. Bukan imajinasi muluk, tapi sekedar angan-angan manusia Indonesia asli yang kadang merindukan logika-lokal dalam memahami sebuah plot kehidupan.
Saya menyebutnya logika-religi yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat kita di samping logika antropologis yang tentu sewajarnya sudah kita pahami. Dan PARA PROTEKTOR menghadirkan hampir semua kelebihan-kelebihan Super Hero barat yang berteknologi namun tetap dengan logika Sabang sampai Merauke yang pas. Ini luar biasa! Saya bisa tetap mengalir tanpa banyak bertanya-tanya sinis dalam hati sebagaimana biasanya memahami paparan logika-Atheis yang kadang aneh. Artinya, komik ini masih melibatkan The Unseen Power tidak lain adalah Tuhan sebagai sumber satu-satunya semua kekuatan di dunia.
Sebut saja karakter Sang Guru dari Serikat Para Protektor. Dalam penangkapan saya, ia seorang bijak-alim-zuhud yang dekat dengan Tuhan. Pantas saja jika ia kemudian menerima ’Karomah’ berbagai kelebihan melebihi manusia biasa. Kegelisahannya akan berbagai kejahatan di Tanah Air mengilhaminya untuk membentuk serikat Para Protektor dengan merekrut beberapa anggota yang masing-masing punya supra talenta berbeda-beda seperti Matahari (latar belakang militer, asal Garut), Aura (Seorang Guru SD asli Papua), Elektro (Seorang Engineer jenius), dan Afiat (Perawat asal Aceh).
Dalam tugas mereka mendefinisikan yang Haq dan Bathil, mereka berhadapan langsung dengan kelompok PDD atau Persaudaraan Dalam Darah yang dikomandani oleh tokoh Manipulator yang juga cerdas tapi licik. Beranggotakan LAVA (Live Android for Vicious Armageddon), Kinetik (Rocker asal Medan), Veromona (Profesor biologi asal Manado), Shooter (tentara bayaran dari Ambon), Molekul (ahli nuklir asal Lampung), Sopran (bernama asli Siti Marlina, penyanyi dangdut asal Sidoarjo) dan Shadow (bernama asli a.k.a. Sukanto, si pemakan manusia dari Klaten).
Berbagai intrik, suspense dan sisi touchy tentus aja mengimbangi adegan-adegan laga yang tersaji apik dan berteknologi di komik keluaran Paracomics Publisher ini. Kalaupun harus mengkritisi atau sekedar masukan, menurut saya perlu sedikit definisi yang lebih detil dalam scenes-period, kapan kejadian plot ini berlangsung, past, present atau future. Hal itu tentu saja perlu untuk memenuhi detil pengejawantahan gambar baik logic setting maupun propping yang berlaku dalam setiap adegan.
Kembali ke imajinasi saya, membaca komik ini tiba-tiba saya kembali teringat Frank Miller, Robert Rodriguez dan Tarantino. Adrenalin ini tiba-tiba kembali naik perlahan untuk mewujudkan sesuatu yang dulu pernah meledak-ledak.
Ehmm...(serak lagi). Apapun itu mohon keikhlasan doanya saja ya...
InsyaAllah...
SAR, Jakarta 120209
Judul : Para Protektor | Supra Talenta Saga
Karya : Poempida Hidayatulloh, Irham, Koko Prabowo
Penerbit : Paracomics Publisher, Jakarta
Tahun : Cetakan pertama Januari 2009
Posted in: REVIEW| Reactions: |
17 September 2008
Rama, Shinta and Me...
Sebulan lalu Rama merasa perlu untuk menumpahkan apa yang dirasa tentang sekelumit ’beat’ cinta melalui degub dadanya kepada Shinta sang monyet betina.
Shinta (seperti tradisi aneh perempuan lain): ”Apa harus aku jawab sekarang?”
Rama (pun mengikuti tradisi aneh para pria dengan menahan diri): ”Ya kalau belum ada jawaban aku tunggu sampai kamu siap...”
Hanya itu, dan setelah sebulan berjalan Shinta semakin bingung. Karena seperti bathinnya saat itu, ia seharusnya bisa mendapat lebih dari sekedar Rama yang hanya seekor monyet liar. Meski hati kecilnya harus mengakui bahwa sejak awal hatinya pun punya rasa sayang untuk tipikal Rama. Tapi sebagai betina, ia pun musti ikut-ikutan tradisi bahwa perempuan sebisa mungkin harus mendapatkan si raja monyet biar masa depan hidupnya bahagia, berlimpah dengan buah-buahan segar yang bebas kapanpun ia mau petik. Paling tidak se-level di atas Rama pun it’s fine laah...
Selain menunggu sambil sedikit melempar rayuan dan godaan maut pada setiap jantan yang dijumpainya terutama sang raja, Shinta pun semakin bimbang. Kini lebih banyak lagi jantan yang harus ia pertimbangkan dan semuanya menunggu jawaban. Jika mau jujur, ia lebih cenderung ke Rama, meski masih ada sesuatu yang mengganjal tentangnya, entah apa itu. Tapi, lagi-lagi ia harus menerapkan tradisi aneh kaum betina bahwa kesungguhan Rama harus diuji terlebih dulu. Maka Shinta pun merasa perlu untuk berpura-pura.
Rama: Sudah lebih sebulan dan kamu belum bisa menetapkan hatimu untuk niat baikku?
Shinta: Tidakkah kamu tau bahwa betina memang harus begitu?
Rama: Maksudmu harus menggantung dan menjadikan jantan sebagai pilihan?
Shinta: Mungkin itu benar, tapi betina juga harus malu.
Rama: Malu itu harus! Tapi jangan samakan dengan gengsi...
Shinta: Maksudmu?
Rama: Kalau mengakui isi hatimu saja kamu begiitu sombong, bagaimana kelak kamu harus merendahkan diri dengan menyayangi aku dan anak-anak kita?
Shinta (terdiam sebentar): Kok kamu jadi ge’er? Lagian belum lama kamu tau aku, kenapa sudah bilang cinta?
Rama (tersenyum): Bagiku waktu segitu sudah cukup untuk pahami isi hatiku.
Shinta: Kok bisa? Gimana jika kenyatan sesungguhnya aku adalah pelacur?
Rama: Aku akan tetap mencintaimu.
Shinta: Gombal!
Rama: Aku bersumpah!
Shinta: Kenapa?
Rama: Ya, hanya karena itulah aku disebut jantan.
Shinta: Hanya itu?
Rama: Karena aku selalu berusaha mencintai kelemahanmu.
Shinta (sinis): Emang kamu tau kelemahanku, Huh..?!
Rama: Sangat jelas.
Shinta (sewot): Sok tau! Emang kamu tau dari mana?
Rama (masih tersenyum): Karena sampai hari ini aku sudah berkali-kali dicintai dan mencintai betina karena kelebihan mereka yang tidak satu pun kelebihan-kelebihan itu kujumpai dari kamu sampai detik ini.
Shinta terdiam, tertunduk. Otaknya berputar keras berusaha menangkis kata-kata Rama, dadanya berdegub kencang menahan sakit hati, tapi batinnya belum mampu membantah ucapan monyet jantan dihadapannya.
Shinta: Sebenarnya apa yang sedang kamu harapkan dari aku?
Rama: Sebenarnya sederhana saja. Cintai aku karena kelemahanku. That’s it...
Shinta: Kenapa begitu?
Rama: Karena aku tau, terlalu banyak jantan yang kau cintai karena kelebihan mereka.
Rama melompat ke sebuah cabang pohon lain tak jauh dari Shinta yang semakin berkecamuk tak karuan. Di dalam dadanya masih terjadi silang sengkarut khas ala kaum betina, antara setuju, sakit hati, gengsi dan kesombongan. Tapi ternyata energinya terlalu lemah untuk pertarungan itu saat Rama berpamitan untuk pergi jauh dan sebisa mungkin tidak akan kembali lagi.
Rama: Mulai sekarang, lupakan semua ucapanku biar engkau lebih bebas memilih apa yang kau inginkan…
Rama melompat semakin menjauh hendak pergi.
Shinta: Rama...!
Rama terhenti, bergelantungan di sebuah cabang pohon tanpa menengokkan wajahnya ke arah Shinta yang menatapnya dalam-dalam.
Shinta (berbisik): Kini aku tau, kamulah jantan yang paling mencintai aku Rama... Kamulah jantan yang ingin kucintai selama ini...
Rama: Maafkan aku Shinta... Aku tidak ingin kau mencintai aku karena kau anggap aku sehebat itu. Aku hanya ingin kau mencintai kelemahanku agar hidup ini indah...
Shinta terguncang hebat. Ia hanya bisa menatap Rama yang mulai menjauh. Tapi belum begitu jauh, tiba-tiba Rama kembali berhenti. Kali ini ia menengok, menatap wajah Shinta dalam-dalam.
Rama: Ada yang lupa kukatakan... Aku baru sadar hari ini, sungguh! ternyata kau saangat cantik.... Selamat tinggal Shinta...
Rama kini melompat sangat jauh dan benar-benar menjauh.
”Monyet sialan.. monyet sok....!”
Saya menggerutu habis-habisan karena puluhan biji kacang yang saya lemparkan, hanya beberapa saja yang termakan. Sampai saya menangkap ekspresi tunduk yang luar biasa dari monyet betina di dekat saya. Sesekali masih menatap si jantan yang kini berkerumun dengan betina-betina lain di ujung kandang sebelum tertunduk kembali.
Saya pun ngga bisa untuk ngga tertegun menatap ekspresi jujur di hadapan saya. Tapi itu real sekali dari seekor monyet. Saya memang termasuk yang kurang yakin akan kebenaran theori Darwin, tapi ngga bisa mengelak juga dengan bukti empiris bahwa monyet mempunyai volume otak cukup besar. Sampai saya menebak dan merangkaikan bahasa romance yang menurut saya luar biasa tersaji begitu saja di hadapan saya sebagai anugerah.
Tentu saja, biar saya dedikasikan karya ini untuk 'para monyet' sajalah...
Posted in: BEHIND THE STORY| Reactions: |
16 September 2008
Zakat Maut itu...
Rasanya seperti hampir meledak, hari ini saya berkumur dengan nasi yang tiba-tiba hambar di mulut melongo saat TV di depan saya menyajikan berita duka yang sesungguhnya terjadi setiap tahun. 21 orang ibu-ibu dan nenek-nenek tewas kehabisan oksigen dan puluhan lagi dirawat dirumah sakit ketika berebut zakat bersama 7 ribu rakyat miskin lainnya.
Demi Allah! Zakat itu adalah hak mutlak bagi kaum miskin, dan kewajiban yang ngga bisa ditawar bagi yang kebetulan kaya.
Ironinya, untuk sebuah hak yang wajib mereka dapatkan, para ibu itu justru di-set lebih mirip mengemis massal dan mengubangkan diri dengan memohon-mohon di halaman rumah mewah sang dermawan. Sungguh, ekspresi-ekspresi yang tertangkap kamera sangat membuat hati saya sakit.
Bayangkan, untuk jatah 30 Ribu Rupiah per kepala yang barangkali ludes untuk makan sehari dengan 4 orang anak, mereka rela kehilangan nyawa. Sementara bisa jadi meja makan di hadapan kita bernilai tidak kurang dari Rp. 300.000 untuk sekali makan dan kita masih berani tersenyum sebagai saudara sebangsa.
Sebenarnya apa yang salah dengan otak dan hati Bangsa besar ini? Mekanisme kah? Atau kebodohan? Semua orang lalu berteriak tentang itu.
Sang pembagi zakat pun berkilah, sejak tahun 70an tradisi ini sudah berlaku dan selama itu aman-aman saja.
Saya bilang, itu berarti orang miskin di kampung loe nambah! Dan kalo masih mau bertahan dengan pola pikir juragan kolonial ya hidup aja di hutan. Apa musti semua orang harus tau bahwa loe berzakat, sampe-sampe kewajiban itu harus dibagi di halaman rumah?
Polisi pun ngeles: Tidak ada pemberitahuan apapun kepada pihak kami bahwa akan ada acara pembagian zakat.
Hmm... saya berpikir, mungkin pak Haji sudah tidak mau repot lagi ngeluarin ongkos tambahan di luar zakat yang tidak termasuk dalam pahala, malah bisa-bisa uang itu dibilang syubhat, lagi...
Si pembaca berita menyayangkan: Kenapa sih nggak menggunakan badan Amil zakat resmi saja yang ditunjuk oleh pemerintah? Kan lebih terorganisir dan aman?
Lagi-lagi saya menebak, Pak Haji si Dermawan itu mungkin membatin ”Siapa yang ngurusin? Depag? Departemen terkorup itu? Kali aja dia termasuk rombongan haji yang dulu pernah terlantar karena catering haji dari depag terlambat, udah gitu lauknya ngga layak karena disunat dan basi pula.
Wallahu a’lam bisshawab....
Well, diluar tebak-menebak yang sebenarnya ngga imajinatif juga, karena itu memang nyata, tampaknya bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini musti banyak belajar menggunakan hati agar pandai merasakan, bukan hanya pintar berhitung.
Duit, rizki dan nafkah selalu menjadi tema yang terlalu seksi bagi bangsa ini. Ketika Inul dan Dewi Persik diprotes soal goyang panggungnya, dengan enteng mereka berkilah: ”Lho.. niat saya kan cari nafkah?” atau ”Ini kan jalan rizki saya..” bla..bla..bla... Wah, tar maling, pengedar CD bokep dan koruptor juga boleh dong...
Wajar saja, karena kemiskinan adalah horor yang begitu ditakuti semua orang. Maka itu para orang tua hari ini pun masih merasa perlu untuk memaksa anak-anak mereka untuk menjadi ”kaya” dan ”terkenal” bukan menjadi ”baik” dan ”pintar”. Demikian juga nasehat untuk anak yang berangkat kerja masih berbunyi: ”Baik-baik dan dekatlah sama bosmu biar kerjamu lancar...” bukanya ”Bekerjalah yang baik dan benar biar kamu berguna..”! Ujung-ujungnya profesi dukun dan motivator laris manis saat jalan mulai buntu. Hmm...masih sama seperti jaman dulu. So, kemajuannya di mannaaa...... (ngga perlu tanda tanya lagi).
Wait...wait... bukan berarti saya anti dengan duit ya... tapi paling tidak sampai hari ini saya masih berpendapat bahwa semakin baik dan maju apa yang kita kerjakan, pasti akan mendatangkan rizki yang lebih baik pula, secara otomatis. Memang, syaratnya KKN tidak boleh terlibat di sini. Lha wong udah mati-matian kerja aja masih ada produser yang tega ngga mau bayar kok..! hehe... tapi itu soal person. InsyaAllah saya optimis, bangsa ini ke depan akan semakin cerdas menyikapi hitam dan putih. Amin...
Saran, barangkali untuk pembagian zakat di kampung, door to door saya rasa akan jadi pilihan yang lebih efektif. Beberapa Amil zakat saja cukup, karena memang ada jatah menurut syari’ah untuk Amil zakat. Tapi kelemahan metode itu memang ada, si pemberi zakat tidak lagi heboh dan tenar sampe ke mana-mana. Masih mau zakat kan..?
Pilih dengan hati bukan otak...!
Posted in: FREETALK| Reactions: |
02 September 2008
Kembali Ramadhan....
Tersendat, tercekat luluh untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hampir terlupakan.
Suara-suara itu melantun secara apa adanya, secara kampungan dari corong masjid yang juga sudah lama tak lagi menggeletar di gendang telingaku.
Suara-suara dalam dan indah itu yang dulu menggandeng tanganku, membimbing hatiku tiap kali Ramadhan menjelang.
Hiruk dalam sepi, sejuk dalam kering diri seorang laki-laki kecil yang tak pernah merasa memiliki maupun dimiliki oleh siapapun.
Laki-laki kecil sombong keras-kepala, yang kelak akan jatuh bangun dalam sujud-sujud pemikirannya sendiri, membangun mimpi-mimpinya hanya berdua dengan Penciptanya, lalu membuktikan sedikit senyum sebelum kembali tertunduk dalam tangis, pada Ilahnya..
dan malam ini, masih seperti malam-malam kemarin, kembali membisikkan sesuatu yang sama di hati ini. "Tak banyak yang mengerti engkau wahai laki-laki kecil, tak banyak yang sanggup memahami mimpi terlampau besar-mu. Tapi tetaplah tegap dan bersyukur menjadi dirimu sendiri, seperti biasanya...
Marhaban Yaa Ramadhan..
suara tarhim itu kembali membasahi rongga ini, meski hari-hari penuh berkah itu tak lagi seindah dulu, ketika aku bisa benar-benar hanya berdua dengan Ilah-ku....
Posted in: SPIRITUAL MOMENT| Reactions: |
15:49
Sigit Ariansyah














